puisi kehidupan
puisi

48 Puisi Kehidupan, Puisi Harapan Yang Inspiratif

Kertas Putih

Oleh : Diah Ariati Prasetia Putri

Hadirmu.. bagai kertas putih tanpa tinta
Hadirmu.. membawa senyum makna bahagia
Engkau datang dengan jeritan Ibumu
Dan kau datang dengan awal tangismu..

Namun..
Waktu tak berpihak padamu..
Jerit ibumu menjadi duka
Tangismu telah tiada
Engkau pun pergi begitu saja

Kini..
Bahagia telah menjadi duka
Senyum merah muda telah tiada
Hadirmu hanya sementara
Engkau sosok kertas putih tanpa tinta


Dunia

Oleh : Mastutin

Kau begitu menggoda
Kau menyuguhkan dosa berbungkus mutiara
Kau mengumbar kemaksiatan berbalut cinta
Kau membuat banyak insan lupa
Lupa akan tujuannya,
Lupa akan Pemilik Semesta
Lupa akan hari yang pasti kan tiba
Hari dimana tiada yg bisa kubawa darimu
Hari dimana tiada yg bisa menyelamatkanku selain amalku
Hari dimana cinta padamu malah menyiksaku

Merugilah.. merugilah..
Merugilah para budak dunia..

Beruntunglah.. beruntunglah..
Beruntunglan para penggengam dunia..
Meletakkan dunia di tangannya,,
Bukan di hatinya..


Lentera Cinta

Oleh : Mastutin

Sepi hariku..
Jauh, Jauh..
terlalu jauh ku melangkah
tak tentu arah..
jenuh tak tertahan

Tak dapat ku lalui jalan ini
Gelap… dimana gerangan Pelita?

Bukan.. Ah bukan..
Bukan Jalan tanpa lentera
tapi mata berdusta
Ku terpesona,
terpedaya indahnya dunia ..
Lentera-ku terasingkan..
aku.. aku tak bergeming.
kala serpihan debu menghiasinya..
Bukan hati yang buta
tapi mata khianat..
Uforia membabi buta.
Harta tahta buat ku terlupa..
Alpa akan kehadiran- Nya.

Sungguh.. merugilah aku.
Tidak..
aku tidak ingin dibarisan ini..
teriakan merongrong jiwa..
Deru tangis penyesalan..
Entah ..apalah guna..
ku harap tak jadi sia belakang…


Jeritan

Oleh : Uslifatul Aini

Dingin membelai tubuh ini
Langkah sebutir nasi semakin jauh
Gemetar tangan dan kaki gemetar
Perih aku menahan lapar
Disini ada jiwa yang merintih
Disini ada air mata yang mengalir
Berjalan tetatih, memandang jauh kedepan
Berharap masih adakah kehidupan
Kau melihat seakan tak peduli
Mata terbuka namun buta
Mendengar telinga dipasung tuli
Sombong beradu dalam uang yang kau curi
Tidakkah kau malu hai para penguasa
Menjual nama kami demi setumpuk harta
Kau memakan nafas kami
Kau bermewah-mewah dalam hak kami

Kami merindukan pemimpin yang suci
Kami merindukan khalifah negeri ini


Halaman Berikutnya »

Halaman | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |