puisi kehidupan
puisi

48 Puisi Kehidupan, Puisi Harapan Yang Inspiratif

Setetes Air dan Sebutir Nasi

Oleh : Galih Nur Akbar Pratama

Harus kepada siapa lagi aku meminta
Harus kemana lagi aku mencari
Banyak upaya sudah aku lakukan
Ternyata semua itu hanya sia-sia !

Sudah kucoba untuk menahan rasa lapar ini
Menahan haus yang mengeringkan tenggorokan
Menahan badan yang hampir tumbang
Menahan kaki yang teramat lelah ini
Aku tidak tahu sampai kapan ..
Perut ini bisa bertahan
Terus kucoba untuk melangkah
Menyusuri jalan yang penuh dengan orang

Adakah orang yang baik
Memberikan aku setetes air saja
Memberikan aku sebutir nasi saja
Sepertinya aku tidak kuat untuk menahan ini

Aku sangat letih !
Aku sangat capek !
Rasanya inginku hentikan saja !
Semua penderitaan ini ..


Kehidupan Pagi

Oleh : Febi Santi Yani

Angin pagi berhembus kearah sang Penghidupan
Menikmati udara dipagi hari
Merasakan betapa sejuknya alam yang indah ini

Para binatang keluar dari sarangnya
Berpencar mencari apa yang mereka harus cari
Langit malam telah berganti
Awan biru telah menghiasi langit

Awan biru yang menjadi penghias langit
Menjadi lukisan langit yang sangat cantik
Ya itulah karya Sang Pencipta
Sungguh Betapa indahnya semua ciptaan-Mu Tuhan…


Rapuh

Oleh : Febi Santi Yani

Rapuh..
Kami memang rapuh..
Kami memang kaum yang lemah
Kaum yang tak dapat berbuat apa-apa selain minta perlindungan

Hanya tumpukan kardus dan papan
Hanya itu yang menjadi hunian kami dan tempat berlindung kami
Disaat orang kaya berada dirumah mewah
Kami hanya ada didalam gubuk kumuh yang tak ternilai

Kami bagai sampah yang tak pernah dianggap
Kami hanya rakyat kecil
Yang menumpang hidup di perkotaan modern
Yang selalu mengais-ngais untuk mendapatkan sebutir padi menguning

Tolonglah wahai petinggi negri ini
tolonglah anggap kami ada
walau hanya akan dipandang sebelah mata oleh kalian
yang benar-benar tak ternilai dan sangat tak berharga


Hidup Kini

Oleh : Shella Nur Octaviani

Hidup ini …..
Memang tak selalu berjalan seperti yang ku mau
Hidup ini …..
Kadang membawa cita-cita ku pergi menjauh

Hanya satu yang tersirat
Satu kata yang mengundang beribu jawab
Mengapa?
Mengapa semua ini terjadi?

Kini hanya kini
Sulitnya hidup hanya pada masa kini
Kadang sulit melupakan masa lalu,
Berkawan dengan masa lalu,
Dan menerima masa lalu
Kadang pun sulit untuk berani menatap masa depan,
Bersahabat dengan masa depan,
Dan melangkah menuju masa depan

Sadarkah aku
Bahwa semua hanya butuh penerimaan
Jangan lagi tertipu pikiran ini akan keegoisan
Jangan lagi tergiur hati ini dalam kesombongan
Hingga diri menuntut banyak perhatian
Sadarkah aku
Bahwa semua ini harus ku lalui
Bahwa semua ini harus ku jalani
Dengan segenap jiwa raga yang mendampingi
Berjalan mengarungi samudra kehidupan ini


Halaman Berikutnya »

Halaman | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |