puisi kehidupan
puisi

48 Puisi Kehidupan, Puisi Harapan Yang Inspiratif

Bocah Kecil Di Tengah Nyata

Oleh : Khairi Rizkiyah

Melangkah melawan maya
Berlari menghampiri cita
Terengah meraungi nyata
Terpesona memandangi raga

Mungkin hanya waktu yang bisa
Bisa menenangkan lelahnya
Mungkin juga hanya mimpi
Hanya mimpi yang mengukir senyumnya

Saat yang lain bahagia dengan ranselnya
Dia hanya bisa melihat bayangannya
Ketika yang lain asik dengan mainannya
Dia hanya bisa menggenggam kotaknya

Ditengah keramaian lalu lintas
Saat kendaraan bernyanyi dengan merdunya
Dia pun berdendang dengan keras
Berdendang menawarkan barangnya

Didepan dada terkalungi kotak permanen
Kotak yang dihiasi dengan berbagai benda
Plastik warna warni yang berisi permen
Dan kardus warna yang dengan rokoknya

Dia merelakan waktunya
Demi mencukupi hidupnya
Menyisihkan istirahatnya
Demi seribu rupah baginya

Melepaskan ransel masa depannya
Untuk menggenggam kotak kehidupannya
Meninggalkan gedung belajarnya
Dan berlari menuju emperan kehidupannya

Dia adalah bocah kecil yang kuat badannya
Bocah kecil yang merauk keramaian demi hidupnya
Bocah kecil yang mampu melawan tipuan maya
Bocah kecil yang berusaha menggapai cita


Terjebak Dalam Gejolak

Oleh : Khairi Rizkiyah

Saat terdengar sebuah berita
Berita tentang duka ataupun suka
Pasti terasa menyentuh dan indah

Jika yang terdengar berita duka
Kita merasakan gundah
Kita mulai melangkah

Saat kegundahan menyelimuti jiwa
Kita mulai bangkit untuk berusaha
Kita mulai sadar untuk berjaya

Tapi, saat berita suka yang terdengarkan
Kita akan merasa untuk membanggakan
Kita akan menjadi bahagia tak karuan

Itulah kita yang terjebak
Terjebak dengan kehidupan yang bergejolak
Sehingga kita memiliki hasrat yang meledak


Pengejar Mimpi

Oleh : Dwi Eulis Indah

Wajahnya kian muram
Rambut putihnya yang tersembunyi dalam kerudung hijau
Mata sayu yang menyimpan banyak kesedihan
Pundak yang tak mampu menopang beban hidup
Serta butiran letih yang menetes di dahinya
Di balik jerit tangisnya
Banyak tawa yang ia persembahkan
Di balik sana,
Di balik tembok yang hampir runtuh
Ia persembahkan segenggam uang 5000 rupiah
Untuk keluarga yang terkasih yang menanti senyum nya
Yang berharap bahwa laparnya akan segera hilang
Namun hanya kekecewaan yang di dapat
Tas dagangan yang ia bawa,Masih utuh tak terjual
Menangis tersedu-sedu
Sambil berkata dan meminta
Kepada sang penguasa alam
Adakah tersisa selembar uang yang masih malaikat bawa
Izinkanlah aku memintanya “
Kemudian ia berlari dan berharap mendapat jawaban.


Hari Itu

Oleh : Dwi Eulis Indah

Saat pagi mulai datang
Matahari mulai menampakan senyumnya
Dan burung-burung sebagai alarm hari
Untuk memulai segala aktifitas di hari ramai
Terdengar suara sang bapak membawa sepanggul roti
Dan ia tawarkan dengan suara khasnya yang setiap pagi ku dengar
Tak pernah berminat membelinya dalam benakku
Namun pagi itu,
Seakan ada dorongan utuk ku mlihat dan membelinya
Aku terkejut bah tersambar petir pagi itu
Saat aku melihat kedua kakinya yang sudah tidak utuh lagi
Kaki kanan nya telah hilang karena takdir nya
Kala ia dilahirkan ke dunia dengan ekurangannya
Namun sang bapak tetap tegar
Membawa sepanggul roti dalam pundak lusuhnya
Yang sudah tidak kekar seperti dulu
Dengan senyumnya,
Aku tahu betapa keras kehidupannya demi sesuap nasi yang ia harapkan setiap pagi datang.


Halaman Berikutnya »

Halaman | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |