Cerpen Sedih – Balon Hitam Menghilang

Cerpen Sedih – Sabtu pagi, aku terbangun dengan riangnya. Aku sadar bahwa ini adalah kamar istimewaku. Aromanya menenangkan khas jeruk nipis pewangi ruangan kamarku. Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.

Pagi ini udara sejuk sekali, aku ingat bahwa pagi ini aku dijemput oleh Andrean. Si dia adalah teman kampusku. Si dia berulang tahun hari ini dan kami merayakannya di salah satu pariwisata sumatera barat, di kebun teh tepatnya.

Aku melihat arloji tepat pukul 08:00 WIB. Aku mendengar suara klakson mobil di depan rumahku. Iya, dia Andrean, Rozi dan Herman. Mereka bertiga adalah teman akrabku. Aku pun ke luar rumah, aku pun langsung memasuki mobilnya Andrean, Honda Jazz berwarna merah, inilah mobil milik ayahnya.

Kami pun mulai berangkat dan di tengah perjalanan kami singgah untuk membeli kue ulang tahunnya Andrean serta tak lupa pula kami membeli balon-balon berwarna hitam. Entah kenapa Andrean suka dan mengambilnya hanya balon berwarna hitam saja padahal aku melihat banyak balon yang bagus warnanya di toko itu, ada balon merah, kuning, hijau bahkan sebanyak warna pelangi pun ada di situ. Entahlah, aku menjadi bingung dengan pilihan Andrean ketika itu.

Akhirnya kami pun selesai belanja peralatan untuk ulang tahunnya Andrean. Kami pun kembali masuk mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Di dalam mobil, kami berempat bersenda gurau. Pokoknya senang sekali ketika itu karena kami dapat holiday bersama.

Ketika terbangun, aku sudah berada di ruangan yang cukup luas. Aku tak tahu ini di mana? Ujarku.
Aku terbaring di sebuah kasur yang beralaskan seprai putih berseri dengan satu bantal yang serupa warnanya. Aku melihat jam tanganku, waktu telah menunjukkan pukul 14:43 WIB. Aku menoleh ke arah samping kanan dan kiri, aku pun melihat 2 orang masih berbaring di kasur yang serupa denganku. Aku lagi di mana?

Aku pun langsung duduk dan kepalaku agak keberatan dan mencekam. Akhirnya aku pun mencoba untuk langsung berdiri, namun kepalaku tetap pusing. Aku pun langsung ke luar di ruangan itu dan tiba-tiba ketika aku ingin melangkah, aku menoleh ke arah kakiku. Aku melihat kakiku dibalut dengan kain kasa putih sepertinya aku mengalami luka dan berdarah.

Aku pun langsung keluar dari ruangan itu, di luar aku melihat 4 orang wanita yang menggunakan kostum yang serupa, biru langit warnanya serta menggunakan masker. Aku pun langsung mendekati ruangan itu, aku bertanya, “Aku lagi di mana sekarang kak?”
Ia menjawab “kamu lagi di rumah sakit. Sebaiknya kamu istirahat dulu di dalam karena kondisi kamu sekarang ini belum stabil”. Akhirnya aku langsung dintarkan ke dalam ruangan semula tempat terbaringnya aku.

Tak lama kemudian, aku pun keluar secara diam-diam. Aku pun berhasil keluar hingga aku berjalan sampai ke persimpangan jalan. Tiba-tiba ada seorang tukang ojek dan aku langsung menyeru dengan memanggilnya untuk mengantarkanku ke pangkalan travel. Biar aku mudah untuk pulang.
Aku meraba saku, dan aku pun langsung mengambil ponselku. “Ahhhh ponselku kehabisan baterai. Jaringannya sudah off. Gimana aku menghubungi teman-temanku?” Ujarku.

Di perjalanan pulang, aku sangat kebingungan. Di dalam hatiku bertanya-tanya kenapa temanku tega meninggalkanku sendirian di rumah sakit. Ujarku sambil meneteskan air mata.

Sekarang matahari telah hampir tenggelam di ufuk Barat. Pendar warna senja mulai meredup. Langit menjadi buram dan kegelapan malam mulai membutakan bumi.

Sebelum aku sampai di rumah, tentunya aku melewati jalan di depan rumah Andrean sebelum jalan menuju rumahku. Aku melihat papan bunga berbaris di depan rumahnya Andrean.
Aku pun kaget, aku pun langsung turun dari travel angkutan umum itu.

Senja ini aku sudah sampai di rumah kediaman teman baikku, Andrean. Suara mengaji tumpang tindih serta ada kudengarkan nada terisak-isak membuatku segera berlari untuk memasuki rumah Andrean. Aku melihat semua orang menggunakan pakaian hitam segelap-gelapnya. Aku langsung mendatangi orangtuanya Andrean. Ayah dan ibunya menceritakan segalanya tentang apa yang sudah terjadi kepada kami berempat, “aku sendiri yang pingsan ketika kecelakaan tadi pagi, Rozi yang mengalami luka-luka parah di bagian tangannya, Herman yang kakinya patah sewaktu kecelakaan tadi dan dirawat di rumah sakit yang serupa dan Andrean yang mengalami luka pendarahan di bagian dada serta kepalanya hingga ia mengakhirkan nafas terakhirnya” ujar ibunya sambil meneteskan air matanya.

Rupanya Andrean telah tiada. Andrean mengalami kecelakaan bersama aku, Rozi dan Herman. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada kami berempat. Aku sangat lelah dan tak sanggup lagi berdiri, aku hanya tergeletak di permadani biru tua. Air mataku tidak berhentinya mengalir melihat Andrean luka parah hingga ia telah meninggal dunia.
Aku menciumnya untuk terakhir kali di hari ulang tahunnya. Semua orang meneteskan air matanya ketika itu untuk teman kami, Andrean.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan aku terpaku sambil memegang surat yasinan. Aku pun mengira rupanya balon hitam kami sudah hilang dan diganti dengan kostum hitam orang-orang yang melayat ketika itu.


Cerpen Karangan: Akmal Khairi
Facebook: Akmal Khairi Zein


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.